Ngeriii… !! 7 Jerat KPR Bank Konvensional

Oleh : Gilang Arif Freeanto

 

Berikut ini adalah 7 alasan mengapa Anda sebaiknya menghindarinya KPR Bank Konvensional.

 

  1. BI Checking yang ribet dan melelahkan

Siapa  saja  yang  pernah  mencoba  mengambil  rumah  lewat KPR perbankan pasti kenal dengan BI Checking. Ya, inilah tahap awal jika Anda mau mengajukan KPR ke bank. Sebuah proses verifikasi data klien terkait kelayakannya untuk bisa mengambil cicilan perbankan. Selain proses pengecekannya yang bisa memakan waktu berminggu-minggu, BI Checking juga menjadi momok bagi sebagian orang karena sering ditolak pengajuannya.

Jika Anda berprofesi sebagai pegawai tetap, mungkin hal ini tidak terlalu menjadi persoalan karena kelengkapan data sudah disediakan oleh kantor. Namun, jika Anda memiliki pekerjaan sebagai wirausaha mikro ataupun pedagang, syarat yang diperlukan sungguh berat. Di antaranya, izin-izin usaha harus lengkap, laporan keuangan yang mesti mendalam, serta aliran kas usaha yang terus stabil.  Ketika  Anda  gagal  memenuhi  salah  satu  kriteria  tersebut, maka pengajuan  ditolak. Impian Anda untuk memiliki rumah pun pupus hingga dikubur dalam-dalam.

 

  1. Suku bunga yang naik dan cicilan makin mencekik

Selamat jika Anda telah lolos BI Checking dan sudah memulai tahap mencicil. Di sini akan timbul permasalahan baru yang awalnya kebanyakan orang tak menyadarinya. Khususnya, bagi yang cicilan rumahnya  bukan  skema  cicilan  _flat_  atau  cicilan  tetap  hingga selesai. Bagi yang cicilannya tidak _flat_, maka Anda harus menghadapi cicilan KPR yang menyesuaikan nilainya dengan kondisi suku bunga perbankan.

Awalnya, suku bunga tersebut terasa ringan karena diberikan suku bunga yang nilainya rendah. Namun pada ujungnya, suku bunga tersebut cenderung akan naik terus hingga mengagetkan

Anda yang mencicil. Bisa jadi pada tahun pertama, cicilan rumah Anda cuma dua jutaan, namun pada tahun-tahun berikutnya menjadi empat jutaan. Sementara itu, penghasilan Anda tak mengalami kenaikan yang signifikan. Duh, tentunya hal ini akan mencekik Anda yang membayar cicilan tersebut.

 

  1. Denda atas keterlambatan yang membuat biaya membengkak

Sebelumnya, Anda sudah harus menghadapi kemungkinan cicilan yang terus naik. Ternyata tak cukup sampai di situ saja, Anda pun tidak boleh terlambat membayar cicilan tersebut meski hanya sehari. Jika terlambat, maka akan dikenakan denda yang besarnya bervariasi  tergantung  kebijakan  bank  yang  menyediakan  fasilitas KPR.

Secara umum, memang kebanyakan bank menghitung denda per hari keterlambatan. Namun, kondisi Anda sebagai pihak yang terlambat membayar cicilan tentunya berbeda-beda. Tak jarang ada yang menunggak dengan durasi lama sehingga dendanya jadi berlipat-lipat. Hal ini akan membuat biaya yang dikeluarkan untuk memiliki rumah jadi semakin tinggi. Apalagi tak ada dispensasi maupun toleransi untuk keterlambatan. Tak peduli kondisi keuangan keluarga Anda sedang sesulit apapun.

 

  1. Debt Collector yang siap meneror Anda

Ketika Anda sudah tidak mampu membayar cicilan, maka bersiap-siaplah menghadapi para debt collector. Mereka sengaja disewa bank dengan tujuan agar nasabah segera membayar angsuran yang tertunggak, tak peduli dengan apa penyebabnya. Dalam hal ini, tak jarang debt collector tersebut diberi wewenang menggunakan segala macam cara agar nasabah merasa terpojok, tidak nyaman, terancam dan takut apabila menunda pembayaran lebih lanjut lagi.

Mungkin di antara Anda ada yang merasa berani untuk menghadapi teror dari debt collector tersebut. Namun, coba bayangkan, apabila yang menghadapinya adalah anak, istri, orang tua, atau kerabat dekat Anda yang lainnya? Apakah masih ada perasaan aman, nyaman, dan tentram untuk tinggal di rumah tersebut bagi Anda maupun mereka?

 

  1. Resiko sita jika tak mampu bayar

Jika  ternyata Anda tetap tidak mampu melanjutkan cicilan setelah berkali-kali ditagih, maka bersiap-siaplah untuk mengosongkan rumah. Mau tak mau rumah tersebut harus diserahkan kembali kepada bank. Padahal, bisa jadi Anda sudah melunasi cukup banyak cicilan sebelumnya. Namun karena bank masih  memiliki hak  penuh terhadap  rumah  Anda,  maka  ia dapat menyitanya, kemudian akan dilelangkan. Besaran nilai lelang pun bank lah yang menentukan. Bahkan biasanya, harga rumah yang dilelang jauh di bawah harga pasar agar cepat laku. Intinya, yang paling penting nilai rumah tersebut haruslah dapat menutupi kekurangan cicilan nasabahnya.

Lalu, Anda yang telah mencicil selama tahunan atau bahkan puluhan tahun hanya bisa duduk terpaku. Penuh nestapa meratapi hilangnya aset disertai dengan kesia-siaan membayar cicilan selama ini. Di lain sisi, pihak perbankan yang menyita ternyata jarang sekali, bahkan hampir tak pernah, memberikan kelebihan sisa lelang rumah kepada nasabahnya.

 

  1. Dikenakan pinalti jika melunasi lebih cepat

Anda  yang  merasa  banyak  kerugian  jika  terus  mencicil  di bank pun akhirnya tersadar. Saat Anda memiliki rezeki lebih, Anda pun ingin langsung mempercepat pelunasan cicilan rumah tersebut. Ternyata, persoalan belum selesai. Jika Anda ingin melunasi cepat, maka akan dikenakan pinalti (biaya tambahan) karena melunasi tak sesuai rencana KPR. Ya, Anda dikenakan “denda” karena “ketidakpatuhan” untuk membayar selama jangka waktu yang disepakati.

Terkesan lucu memang. Tapi inilah fakta yang terjadi pada umumnya. Ketika Anda beriktikad mau mempercepat bayaran, malah tambahan bayaran yang Anda dapatkan.

 

  1. Dosa riba karena KPR Konvensional yang jelas produk ribawi

Keenam hal sebelumnya adalah cobaan yang dihadapi oleh Anda jika mengambil KPR lewat Bank Konvensional yang dapat dirasakan langsung di dunia. Selain itu, akan ada pula yang diterima di akhirat jika Anda tetap berada dalam dalam jebakan KPR Bank Konvensional padahal Anda sadar bahwa itu adalah produk ribawi. Produk yang di dalamnya mengandung unsur riba, mulai dari bunga, denda, penalti, dan sebagainya.

Apakah  Anda  masih  mau  menerima  bahaya  dan  ancaman akan dosa riba yang sengaja dilakukan ?, Apakah  Anda  mau  mendapat dosa yang sama dengan menzinai ibu sendiri ?, Atau mau berperang dengan Allah dan Rasulnya? Atau Sudah siap untuk Diazhab ?? Tentunya tidak bukan !

Maka hijrah merupakan solusi, baik buyer, marketing, agency dan developer..

 

* Dikutip dari berbagai sumber

* Sumber gambar dari google

author